Tidak Ada Yang Selamat Dari Gangguan Manusia
Dalam kehidupan di dunia, mustahil seseorang terbebas sepenuhnya dari gangguan, celaan, atau keburukan lisan manusia. Selama kita masih hidup dan berinteraksi dengan orang lain, akan selalu ada yang tidak sejalan dengan keinginan atau harapan kita. Bahkan, orang yang berbuat baik pun tidak lepas dari cercaan, apalagi yang berbuat salah.
Imam al-Auza’i رحمه الله pernah ditanya oleh seorang lelaki:
"Aku ingin sebuah rumah yang letaknya di samping orang-orang yang tidak ghibah, tidak hasad, dan tidak membenci."
Mendengar itu, Imam al-Auza’i membawanya ke pemakaman seraya berkata:
"Di sinilah (tempatnya)." (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (2/182))
Jawaban ini penuh hikmah. Pesannya jelas: selama manusia masih hidup, ia tidak akan lepas dari sifat manusiawi yang kadang menyakitkan orang lain, baik melalui ucapan, perbuatan, atau bahkan hanya sekadar perasaan. Satu-satunya tempat di mana manusia tidak lagi saling menyakiti hanyalah di alam kubur.
Hikmah yang Bisa Diambil
-
Gangguan manusia adalah sunnatullah di dunia. Bahkan para Nabi dan orang-orang shalih pun tidak luput darinya. Rasulullah ﷺ pun difitnah, dihina, dan dibenci oleh sebagian orang, padahal beliau adalah manusia paling mulia.
-
Kesabaran adalah kunci. Allah ﷻ berfirman:
وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ
"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan." (QS. Thaha: 130) -
Jangan menuntut kesempurnaan dari manusia. Mencari lingkungan yang baik adalah anjuran, namun mengharapkan tidak ada kekurangan sama sekali adalah utopia yang hanya ada di akhirat.
-
Fokus memperbaiki diri. Daripada larut memikirkan ucapan buruk orang lain, lebih baik mengisi waktu dengan amal shalih dan perbaikan diri, agar hati tetap tenang.
Jika kita mengharapkan kehidupan tanpa gangguan manusia, kita akan terus kecewa. Maka, bersikaplah realistis: terima bahwa dunia ini adalah ladang ujian, dan gangguan dari manusia adalah bagian dari ujian itu. Yang terpenting adalah bagaimana kita meresponsnya—dengan sabar, lapang dada, dan tetap berbuat baik.
Imam al-Auza’i mengingatkan kita dengan sederhana, bahwa kedamaian total baru akan kita dapatkan setelah meninggalkan dunia ini. Sebelum itu, bersabarlah dan berlapang hatilah. Di dunia ini hampir mustahil menemukan lingkungan yang sepenuhnya bebas dari ghibah, hasad, dan kebencian. Satu-satunya “tempat” yang benar-benar bebas dari itu semua adalah… kuburan, karena penghuninya sudah tidak lagi melakukan dosa lisan maupun hati.
Maknanya jangan berharap manusia di dunia ini 100% bersih dari penyakit hati dan lisan. Lebih baik belajar bersabar, memperbaiki diri, dan menjaga hati di tengah masyarakat yang ada. Ingat bahwa kebersihan dari sifat buruk adalah cita-cita yang baru benar-benar tercapai setelah kehidupan dunia berakhir — atau setidaknya ketika kita hidup di lingkungan orang-orang yang sungguh-sungguh menjaga takwa.

Komentar
Posting Komentar