Postingan

Membacakan Surat al-Fatihah pada Air

Gambar
 Dalam ajaran Islam, Al-Qur’an bukan hanya sebagai petunjuk hidup, tetapi juga sebagai penyembuh (syifa’) bagi manusia. Karena itu, sebagian ulama membolehkan membaca ayat Al-Qur’an pada air kemudian diminum atau digunakan sebagai wasilah untuk kesembuhan. Salah satu surat yang sering dibaca adalah Surah Al-Fatihah karena kandungannya yang penuh doa dan permohonan kepada Allah. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 82: وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ "Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-Isra: 82) Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki keberkahan dan dapat menjadi sebab kesembuhan dengan izin Allah. Oleh karena itu, membaca Al-Qur’an pada air termasuk bentuk ikhtiar dan doa kepada Allah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri , para sahabat pernah meruqyah seseorang yang tersengat dengan membaca Surah Al-Fatihah ...

Kenapa Hilang Nikmat ibadah ?

Gambar
  Nikmatnya ibadah adalah karunia besar dari Allah. Ketika seseorang merasa ringan shalat, senang membaca Al-Qur’an, dan hatinya tenang saat berdzikir, itu tanda hatinya hidup. Namun terkadang seorang muslim merasakan ibadah menjadi berat, terasa kering, dan tidak lagi menghadirkan ketenangan. Hilangnya nikmat ibadah sering kali menjadi tanda bahwa hati sedang tertutup oleh dosa atau kelalaian. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an: وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy-Syura: 30) Para ulama menjelaskan bahwa di antara musibah terbesar bagi seorang hamba adalah ketika ia kehilangan manisnya ibadah. Dosa yang dilakukan, baik kecil maupun besar, dapat mengeraskan hati sehingga sulit merasakan kelezatan dalam beribadah. Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ “Sesungguhnya seorang hamba bisa terhalang dari rezeki karena dosa yan...

Taat Dan Maksiat Tidak Berguna Bagi Allah SWT

Gambar
  Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa taat dan maksiatnya manusia sama sekali tidak memberi manfaat ataupun mudarat bagi Allah ﷻ. Allah Maha Sempurna, Maha Kaya, dan tidak membutuhkan makhluk-Nya. Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam Al-Qur’an : يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ “Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. فاطر: 15) Ayat ini menegaskan bahwa kitalah yang bergantung kepada Allah, bukan sebaliknya. Ketaatan kita tidak menambah kemuliaan Allah, dan kemaksiatan kita tidak mengurangi kekuasaan-Nya sedikit pun. Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim , Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah berfirman: يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّونِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي “Wahai hamba-Ku, kalian tidak akan mampu memberi mudarat kepada-Ku sehingga kalian dapat memudarat...

Kisah Ahli Kubur Mendapat Kiriman Pahala

Gambar
  Kisah Ahli Kubur Mendapat Kiriman Pahala Dalam ajaran Islam, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Setelah seseorang wafat, amalnya memang terputus, namun rahmat Allah masih terbuka melalui sebab-sebab tertentu. Salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah dibolehkannya orang yang masih hidup mengirimkan pahala kepada ahli kubur melalui doa, sedekah, dan amal kebaikan lainnya. Inilah yang menjadi penghibur bagi keluarga yang ditinggalkan sekaligus bukti luasnya rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ada amalan tertentu yang pahalanya tetap mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia. Dalam hadits yang sangat masyhur, beliau bersabda: إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (HR. Muslim) Artinya: “Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan a...

Surat Yāsīn Dibaca Saat Ziarah dan Dihadiahkan untuk Orang Meninggal: Mengapa Bukan Surat Lain?

Gambar
  Di tengah tradisi kaum Muslimin, membaca Surat Yāsīn ketika ziarah kubur atau menghadiahkannya kepada orang yang telah wafat adalah amalan yang sangat masyhur. Tidak sedikit yang kemudian bertanya, “Mengapa harus Surat Yāsīn? Bukankah bisa surat lain saja?” Pertanyaan ini wajar, dan Islam adalah agama ilmu—segala amalan tentu memiliki landasan, makna, dan hikmah. Surat Yāsīn memiliki kedudukan khusus dalam Al-Qur’an. Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai jantung Al-Qur’an , sebagaimana dalam hadits: إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا، وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس “Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati, dan hati Al-Qur’an adalah Yāsīn.” (HR. at-Tirmidzi, meskipun para ulama berbeda pendapat tentang derajatnya, namun diamalkan dalam fadha’il a‘mal) Surat Yāsīn mengandung inti akidah Islam: tauhid, kerasulan, hari kebangkitan, dan balasan amal. Tema-tema inilah yang sangat relevan ketika mengingat kematian, alam kubur, dan akhirat. Saat seseorang berziarah atau menghadiahkan bacaan kepada m...

Penilaian Orang Tentangmu dalam Pandangan Islam

Gambar
  Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak akan pernah lepas dari penilaian orang lain. Ada yang memuji, ada pula yang mencela. Namun Islam mengajarkan bahwa penilaian manusia bukanlah standar utama dalam menentukan nilai seseorang. Yang paling penting adalah bagaimana Allah ﷻ menilai hamba-Nya, karena hanya Allah yang Maha Mengetahui isi hati dan niat setiap amal. Allah ﷻ menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada penilaian manusia, harta, jabatan, atau popularitas, melainkan pada ketakwaannya. Allah ﷻ berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang ...

Mengungkit Pemberian adalah Karakter Orang yang Kikir dan Ujub

Gambar
  Dalam ajaran Islam, memberi adalah amal mulia yang seharusnya dilakukan dengan keikhlasan dan penuh kerendahan hati. Namun, nilai kebaikan tersebut dapat gugur ketika seseorang mengungkit-ungkit pemberiannya. Mengungkit pemberian bukan hanya melukai perasaan penerima, tetapi juga menunjukkan penyakit hati berupa kikir dan ujub. Orang yang ikhlas memberi tidak merasa lebih tinggi dari orang lain, karena ia menyadari bahwa semua harta hanyalah titipan Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Allah ﷻ dengan tegas melarang perbuatan mengungkit pemberian dalam Al-Qur’an, karena hal itu dapat menghapus pahala sedekah. Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ (البقرة: 264) “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghapus pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang mena...