Postingan

Surat Yāsīn Dibaca Saat Ziarah dan Dihadiahkan untuk Orang Meninggal: Mengapa Bukan Surat Lain?

Gambar
  Di tengah tradisi kaum Muslimin, membaca Surat Yāsīn ketika ziarah kubur atau menghadiahkannya kepada orang yang telah wafat adalah amalan yang sangat masyhur. Tidak sedikit yang kemudian bertanya, “Mengapa harus Surat Yāsīn? Bukankah bisa surat lain saja?” Pertanyaan ini wajar, dan Islam adalah agama ilmu—segala amalan tentu memiliki landasan, makna, dan hikmah. Surat Yāsīn memiliki kedudukan khusus dalam Al-Qur’an. Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai jantung Al-Qur’an , sebagaimana dalam hadits: إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا، وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس “Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati, dan hati Al-Qur’an adalah Yāsīn.” (HR. at-Tirmidzi, meskipun para ulama berbeda pendapat tentang derajatnya, namun diamalkan dalam fadha’il a‘mal) Surat Yāsīn mengandung inti akidah Islam: tauhid, kerasulan, hari kebangkitan, dan balasan amal. Tema-tema inilah yang sangat relevan ketika mengingat kematian, alam kubur, dan akhirat. Saat seseorang berziarah atau menghadiahkan bacaan kepada m...

Penilaian Orang Tentangmu dalam Pandangan Islam

Gambar
  Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak akan pernah lepas dari penilaian orang lain. Ada yang memuji, ada pula yang mencela. Namun Islam mengajarkan bahwa penilaian manusia bukanlah standar utama dalam menentukan nilai seseorang. Yang paling penting adalah bagaimana Allah ﷻ menilai hamba-Nya, karena hanya Allah yang Maha Mengetahui isi hati dan niat setiap amal. Allah ﷻ menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada penilaian manusia, harta, jabatan, atau popularitas, melainkan pada ketakwaannya. Allah ﷻ berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang ...

Mengungkit Pemberian adalah Karakter Orang yang Kikir dan Ujub

Gambar
  Dalam ajaran Islam, memberi adalah amal mulia yang seharusnya dilakukan dengan keikhlasan dan penuh kerendahan hati. Namun, nilai kebaikan tersebut dapat gugur ketika seseorang mengungkit-ungkit pemberiannya. Mengungkit pemberian bukan hanya melukai perasaan penerima, tetapi juga menunjukkan penyakit hati berupa kikir dan ujub. Orang yang ikhlas memberi tidak merasa lebih tinggi dari orang lain, karena ia menyadari bahwa semua harta hanyalah titipan Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Allah ﷻ dengan tegas melarang perbuatan mengungkit pemberian dalam Al-Qur’an, karena hal itu dapat menghapus pahala sedekah. Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ (البقرة: 264) “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghapus pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang mena...

Selalu Ada Alasan Untuk Bahagia

Gambar
 Dalam Islam, kebahagiaan bukan semata-mata diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau terpenuhinya semua keinginan duniawi. Kebahagiaan sejati lahir dari hati yang mengenal Allah, menerima ketetapan-Nya, dan selalu bersyukur dalam setiap keadaan. Seorang mukmin memahami bahwa apa pun yang terjadi dalam hidupnya tidak pernah lepas dari hikmah dan kasih sayang Allah. Karena itu, selalu ada alasan untuk berbahagia selama hati tetap terikat kepada-Nya. Allah ﷻ mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bersumber dari mengingat-Nya. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: ﴿أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾ “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra‘d: 28). Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan hati adalah inti dari kebahagiaan. Ketika hati tenang, maka kesulitan hidup tidak lagi terasa menyesakkan, bahkan menjadi ladang pahala dan kedewasaan iman. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa seorang mukmin selalu memiliki alasan untuk berbahagia da...

Siapa yang Tetap Jadi Pemalas Maka Keinginannya Tidak Tercapai

Gambar
Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk aktif, berusaha, dan tidak larut dalam kemalasan. Sikap malas bukan hanya menghambat urusan dunia, tetapi juga dapat merugikan kehidupan akhirat. Seseorang yang terus-menerus menunda amal, enggan berikhtiar, dan hanya berangan-angan tanpa usaha, maka keinginannya sulit tercapai. Dalam Islam, harapan harus disertai dengan kerja nyata dan kesungguhan, karena Allah ﷻ menetapkan hasil sebanding dengan usaha hamba-Nya. Allah ﷻ menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa setiap manusia akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang ia usahakan. Allah berfirman: ﴿وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى﴾ “Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39). Ayat ini menjadi dalil yang jelas bahwa keinginan tanpa usaha hanyalah angan-angan kosong. Orang yang malas berarti memutus sebab-sebab datangnya keberhasilan, sehingga wajar bila tujuan hidupnya tidak tercapai. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan umatnya untuk ...

Ketetapan Allah Adalah Yang Terbaik

Gambar
 Setiap manusia pasti berhadapan dengan berbagai peristiwa dalam hidup, ada yang menyenangkan dan ada pula yang terasa berat. Dalam Islam, seorang mukmin diajarkan untuk meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi telah ditetapkan oleh Allah ﷻ dengan penuh hikmah. Ketetapan Allah bukanlah tanpa tujuan, melainkan bagian dari kasih sayang dan kebijaksanaan-Nya yang sering kali belum mampu dijangkau oleh akal manusia. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an bahwa boleh jadi sesuatu yang tidak kita sukai justru membawa kebaikan, dan sebaliknya apa yang kita sukai bisa saja membawa keburukan. Allah ﷻ berfirman: وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Ayat ini mengajarkan...

Perbanyak Doa Kepada Allah SWT

Gambar
 Dalam ajaran Islam, doa memiliki kedudukan yang sangat mulia. Doa adalah bukti kelemahan seorang hamba sekaligus pengakuan atas keagungan dan kekuasaan Allah SWT. Dengan doa, seorang muslim menyambungkan hatinya kepada Rabb semesta alam, mengadukan segala kebutuhan, kesulitan, dan harapannya. Allah SWT sendiri memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk memperbanyak doa dan menjanjikan pengabulan bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam memohon kepada-Nya. Allah berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’ Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60) Perintah berdoa dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa doa bukan hanya sekadar permohonan, tetapi juga termasuk ibadah. Bahkan, orang yang enggan berdoa disebut sebagai o...