Postingan

Menampilkan postingan dengan label Akidah

Krisis Kepercayaan Agama

Gambar
  Krisis kepercayaan terhadap agama merupakan salah satu tantangan besar yang dihadapi masyarakat modern. Kemajuan teknologi, arus informasi yang begitu cepat, gaya hidup materialistik, serta berbagai persoalan sosial sering kali membuat sebagian orang mempertanyakan nilai-nilai agama dalam kehidupan. Tidak sedikit yang mulai menjauh dari ajaran agama, bukan karena agama tidak relevan, tetapi karena kurangnya pemahaman, keteladanan, dan penghayatan terhadap ajaran tersebut. Dalam Islam, iman bukan sekadar warisan atau identitas, melainkan keyakinan yang harus dipelihara dengan ilmu, ibadah, dan refleksi. Ketika seseorang jauh dari ilmu agama dan lebih banyak mengikuti hawa nafsu atau pengaruh lingkungan, maka keimanannya dapat melemah dan keraguan mudah masuk ke dalam hati. Allah ﷻ berfirman: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ “Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.” (QS. Muhammad: 19) Ayat ini menunjukkan bahwa keimanan harus dib...

Syahadat dan Keimanan

Gambar
Iman berasal dari bahasa Arab الإيمان yang berarti percaya atau membenarkan dengan sepenuh hati. Dalam Islam, iman bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi juga harus diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan. Iman adalah meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan . Ini berarti seseorang yang beriman tidak hanya berkata "saya beriman," tetapi juga harus menunjukkan keimanannya melalui amal perbuatan yang sesuai dengan ajaran Islam. Keimanan dalam Islam berarti percaya dengan sepenuh hati terhadap enam rukun iman: Iman kepada Allah – Meyakini keesaan Allah. Iman kepada malaikat – Meyakini keberadaan malaikat sebagai makhluk Allah yang menjalankan perintah-Nya. Iman kepada kitab-kitab Allah – Meyakini bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab-Nya, termasuk Al-Qur’an sebagai pedoman hidup terakhir. Iman kepada rasul-rasul Allah – Meyakini bahwa Allah telah mengutus para nabi dan rasul, dengan Nabi Muhammad ﷺ sebagai penutup p...

Ilmu Kalam pada Periode Salaf

Gambar
Ilmu Kalam adalah salah satu cabang ilmu dalam Islam yang membahas persoalan-persoalan akidah atau keyakinan agama secara rasional dan sistematis. Tujuan utamanya adalah memahami, menjelaskan, dan mempertahankan keimanan Islam dari berbagai tantangan, baik dari internal umat Islam sendiri maupun dari serangan pemikiran luar. Kata kalam (الكلام) secara harfiah berarti "perkataan" atau "pembicaraan". Dinamakan demikian karena ilmu ini sering melibatkan perdebatan atau dialog untuk menjelaskan konsep-konsep teologis. Dalam konteks keilmuan Islam, ilmu kalam sering disebut juga sebagai teologi Islam. Ilmu kalam pada periode salaf merujuk pada perkembangan awal diskusi teologis dalam Islam yang muncul sekitar abad pertama hingga awal abad ketiga Hijriah (7-9 Masehi). Pada periode ini, diskursus keagamaan berkembang dalam rangka memahami dan menjelaskan ajaran Islam, terutama terkait akidah (keyakinan). Ciri khas periode ini adalah pendekatan yang cenderung menghindari s...

Kewajiban Beriman Kepada Hari Kiamat

Gambar
Iman dengan hari akhir atau iman kepada hari kiamat adalah salah satu rukun iman dalam ajaran Islam. Ini mengacu pada keyakinan bahwa akan ada kehidupan setelah mati dan bahwa akan ada hari pembalasan di mana setiap amal perbuatan manusia akan dihisab dan diberikan ganjaran yang sesuai. Iman kepada hari akhir tidak hanya mempengaruhi keyakinan spiritual seseorang, tetapi juga membimbing perilaku dan keputusan sehari-hari. dengan harapan akan memperoleh rahmat dan ampunan dari Allah serta menghindari siksa-Nya. Beberapa aspek penting dari iman kepada hari akhir meliputi: Keyakinan pada Kebangkitan: Setelah kematian seluruh manusia akan dibangkitkan kembali dari kubur untuk dihisab. Hisab: Setiap amal perbuatan baik dan buruk akan dihitung dan dinilai. Ini termasuk perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan dunia dan bagaimana seseorang menjalani hidupnya menurut ajaran agama. Balasan: Berdasarkan hisab setiap orang akan menerima balasan yang setimpal baik itu surga bagi yang beriman dan b...

Hakikat Allah Mengenai Tempat Dan Arah

Gambar
Dalam Islam, pemahaman tentang hakikat Allah terkait tempat dan arah didasarkan pada prinsip-prinsip teologi yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadits, serta didalami oleh para ulama. Allah tidak terikat oleh tempat, ruang, atau arah. Allah Maha Esa, Maha Besar, dan tidak serupa dengan makhluk-Nya. Dalam Surah Ash-Shura (42:11), Allah berfirman;  فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ   "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."   Ini menunjukkan bahwa Allah tidak bisa dibandingkan dengan apa pun dalam aspek ruang atau arah. Dalam aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, diyakini bahwa Allah ada tanpa memerlukan tempat atau arah. Ini berarti bahwa Allah ada sebelum penciptaan ruang dan waktu dan tidak membutuhkan keduanya untuk eksis. Secara keseluruhan, dalam Islam, Allah ...

Allah Suci Dari Arah dan Tempat, Mengapa Kalau berdoa Menghadap Kelangit?

Gambar
Sebagai orang Ahlussunah Wal Jamaah yang beraqidah Asy’ariyah Maturidiah tentunya kita sangat mengenal kalimat “Allah ada tanpa tempat”. Maksudnya bahwa Allah telah ada tanpa permulaan dan qadim. Allah ada sebelum segala sesuatu ini diciptakan seperti ‘Arasy, langit, bumi, segala makhluk, dan isinya. Allah sudah sempurna dengan segala sifat-Nya yang azali. Allah dan sifat-Nya setelah adanya makhluk tidak memberi pengaruh apa pun terhadap dzat dan sifat-Nya. Allah maha sempurna jauh sebelum semua ini ada. Imam Syafi’i juga pernah mengutarakan sebagaiman termaktub dalam kitab Ithaf al-Sadati al-Muttaqin, beliau berkata : إنه تعالى كان ولا مكان فخلق الـمكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه الـمكان لا يجوز عليه التغيِير فى ذاته ولا في صفاته “Sesungguhnya Allah ta’ala ada dan tidak ada tempat, maka Dia (Allah) menciptakan tempat, sementara Dia (Allah) tetap atas sifat azali-Nya, sebagaimana Dia (Allah) ada sebelum Dia (Allah) menciptakan tempat, tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Ny...

Ilmu Tauhid

Gambar
Tauhid merupakan cabang yang paling tinggi, makna dasar dari tauhid sendiri adalah satu (Esa). Tauhid adalah ilmu yang mengkaji tentang pengokohan keesaan Allah menggunakan dalil dan argumen yang jelas. Dengan menggali dan memurnikan akidah umat islam menggunakan dalil dalil aqliyah maupun naqliyah (Alquran maupun sunnah). Ilmu ini dinamakan ilmu tauhid karena pokok bahasannya mengenai keesaan Allah. Adapun nama lain dari ilmu ini Yakni ilmu usul, ilmu aqidah, atau ilmu kalam. Bahasan tauhid erat kaitannya dengan kalimat "Lailaha Illa Allah" kalimat yang berhubungan dengan masalah iman. الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ  وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ “Iman itu lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah perkataan ‘laa ilaaha illallah’ [tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh]. Sedangkan cab...

Golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah

Gambar
kaum Asy’ariyyah dan Maturidiyah (para pengikut al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan al-Imam al-Maturidi ) adalah salah satu firqah dalam aqidah islam. al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan al-Imam Abu Manshur al-Maturidi  termasuk tokoh aqidah yang sangat mashur dan ulama yang terpercaya (tsiqah) dalam menjaga kemurnian aqidah yang di bawa oleh Rasulullah dan para sahabat. kaum Asy’ariyyah dan Maturidiyah biasanya juga disebut dengan golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah (ASWAJA). Banyak ulama terkemuka di kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi. mereka semua adalah para pengikut al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari, atau pengikut al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi. Mereka semua adalah Asy’ariyyah Maturidiyyah. Diantara para ulama yaitu; Abul Hasan al-Bahili, Abu Sahl ash-Shu’luki (w 369 H), Abu Ishaq al-Isfirayini (w 418 H), Abu Bakar al-Qaffal asy-Syasyi (w 365 H), Abu Zaid al-Marwazi (w 371 H), Abu Abdillah ibn Khafif asy-Syirazi; seorang sufi terkemuka (w ...