Kesombongan Merupakan Tanda Kurangnya Akal

Dalam Islam, kesombongan (kibr) merupakan salah satu sifat tercela yang sangat dibenci oleh Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi."
(HR. Muslim)

Kesombongan muncul ketika seseorang merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain, baik karena harta, kedudukan, ilmu, atau rupa. Padahal hakikatnya semua itu hanyalah titipan Allah ﷻ yang bisa hilang kapan saja. Abu Ja'far Muhammad bin Ali bin Husain rahimahullah berkata,

ما دخل قلب امرئ شيء من الكبر إلا نقص من عقله مثل ما دخله من ذلك، قل أو كثر

"Tidaklah hati seorang hamba dimasuki oleh kesombongan kecuali akalnya akan berkurang sesuai dengan kadar kesombongannya, sedikit atau pun banyak." (Shifatush Shafwah, II/108)

Ucapan ini menunjukkan bahwa kesombongan bukan hanya merusak hati, tetapi juga melemahkan fungsi akal. Orang yang sombong biasanya tidak lagi mampu menimbang kebenaran dengan jernih. Ia merasa paling benar, paling mulia, dan menolak nasihat.

Kesombongan seakan menutup mata hati dan membelenggu akal sehat. Semakin besar kesombongan seseorang, semakin besar pula kebodohan yang tampak dalam sikapnya. Ia mungkin berilmu tinggi, tetapi ilmunya tidak memberi manfaat karena disertai dengan kesombongan.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

"Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia."
(HR. Muslim)

Maka jelaslah, kesombongan adalah tanda kelemahan akal. Sebaliknya, tawadhu’ (rendah hati) adalah tanda kemuliaan akal dan kejernihan iman. Orang yang sombong pada dasarnya menunjukkan kurangnya akal sehat. Sebab, jika ia benar-benar berakal, ia akan sadar bahwa dirinya hanyalah hamba yang lemah. Nafas yang dihirup, rezeki yang dinikmati, bahkan hidup dan mati sepenuhnya berada di bawah kehendak Allah ﷻ. Bagaimana mungkin seorang hamba yang fana merasa layak untuk menyombongkan diri?

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:
"Apakah anak Adam pantas menyombongkan diri? Padahal asalnya dari air yang hina, dan akhirnya akan menjadi bangkai yang menjijikkan, serta di antara itu ia membawa kotoran."

Kesombongan juga menutup pintu kebenaran. Orang yang sombong sulit menerima nasihat, enggan mengakui kesalahan, dan merasa dirinya paling benar. Inilah tanda kerusakan akal, sebab akal yang sehat seharusnya tunduk kepada kebenaran meskipun datang dari orang yang lebih rendah kedudukannya.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung."
(QS. Al-Isra’: 37)

Ayat ini menegaskan bahwa kesombongan hanyalah ilusi. Tidak ada sedikit pun kemuliaan dalam kesombongan, justru ia adalah tanda kelemahan akal dan kehinaan hati.

Maka, orang beriman seharusnya menghiasi dirinya dengan rendah hati (tawadhu’). Sebab tawadhu’ adalah akhlak mulia yang menunjukkan kejernihan hati dan kecerdasan akal. Semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, seharusnya semakin besar kerendahannya di hadapan Allah dan makhluk-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna Kedalaman Cinta Rasulullah ﷺ dalam Doa

Agar Tidak Ujub Dengan Dirinya Sendiri

Indahnya Menikah dengan yang Paham Agama