Janji Allah bagi Orang yang Sungguh-Sungguh Belajar
Jangan pernah merasa bahwa waktu yang kita habiskan untuk belajar adalah waktu yang sia-sia. Jangan merasa bahwa membaca kitab, menghafal Al-Qur’an, duduk di majelis ilmu, belajar kepada guru, mengulang pelajaran, atau berjuang memahami sesuatu yang sulit tidak memiliki nilai di hadapan Allah. Bisa jadi, justru langkah-langkah kecil yang tidak terlihat oleh manusia itulah yang sedang mengantarkan kita kepada kemuliaan yang besar di sisi Allah.
Belajar dalam Islam bukan sekadar mencari kepandaian. Ilmu bukan hanya untuk mendapatkan gelar, pekerjaan, jabatan, atau pengakuan manusia. Ilmu adalah jalan untuk mengenal Allah, memperbaiki diri, membedakan antara yang benar dan yang salah, serta mengetahui bagaimana seorang hamba harus menjalani kehidupannya. Karena itulah, Islam memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada orang-orang yang beriman dan berilmu.
Allah berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Perhatikan janji Allah tersebut. Orang beriman dan orang yang diberi ilmu akan diangkat derajatnya. Artinya, perjalanan mencari ilmu bukan perjalanan yang kosong. Ada kemuliaan yang Allah siapkan bagi orang yang bersungguh-sungguh. Mungkin hari ini kita belum melihat hasilnya. Mungkin hafalan kita masih sedikit, pemahaman kita masih terbatas, kemampuan kita belum sempurna, bahkan terkadang kita merasa tertinggal dibandingkan orang lain. Tetapi jangan berhenti hanya karena hasil belum terlihat.
Allah melihat kesungguhan kita.
Allah melihat ketika kita memilih membuka buku daripada menghabiskan waktu tanpa manfaat. Allah mengetahui ketika kita bangun untuk mengaji, ketika kita duduk di hadapan guru, ketika kita mengulang pelajaran yang belum dipahami, ketika kita menahan rasa malas, dan ketika kita tetap belajar meskipun tidak ada seorang pun yang memberikan pujian.
Sebab dalam perjalanan ilmu, yang paling penting bukan siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang mau terus berjalan.
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)
Ayat ini menjadi penguat bagi siapa pun yang sedang berjuang. Kesungguhan tidak pernah sia-sia. Bisa jadi kita belum mengetahui ke mana perjalanan ilmu akan membawa kita, tetapi Allah mengetahui jalan tersebut. Tugas kita adalah terus berusaha, sementara hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah.
Rasulullah SAW bahkan memberikan kabar gembira yang sangat besar kepada orang yang menempuh jalan ilmu:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
Betapa luar biasanya janji ini. Jalan menuju majelis ilmu ternyata dapat menjadi jalan menuju surga. Duduk belajar dapat menjadi ibadah. Membaca dapat menjadi ibadah. Menghafal dapat menjadi ibadah. Bertanya kepada guru dapat menjadi ibadah. Bahkan kesulitan memahami pelajaran, apabila dihadapi dengan sabar dan ikhlas, dapat menjadi bagian dari perjuangan yang bernilai di sisi Allah.
Karena itu, jangan remehkan seorang santri yang sedang belajar. Jangan remehkan seorang anak yang sedang belajar membaca Al-Qur’an. Jangan remehkan seseorang yang setiap hari berusaha memahami agama. Bisa jadi secara duniawi ia belum memiliki apa-apa, tetapi ia sedang menempuh jalan yang dijanjikan Allah dengan kemuliaan.
Namun ada satu hal yang harus diingat: ilmu bukan sekadar membuat seseorang semakin banyak bicara. Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin banyak memperbaiki diri.
Semakin berilmu, semakin rendah hati. Semakin memahami kebesaran Allah, semakin sadar betapa kecilnya diri. Semakin mengetahui luasnya ilmu para ulama, semakin seseorang memahami bahwa dirinya masih sangat membutuhkan bimbingan.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)
Inilah salah satu tanda ilmu yang membawa keberkahan. Ilmu membuat hati takut kepada Allah, bukan membuat seseorang merasa paling hebat. Ilmu membuat seseorang semakin santun, bukan semakin gemar merendahkan. Ilmu membuat seseorang semakin mudah menerima kebenaran, bukan semakin keras mempertahankan ego.
Karena itu, belajar harus disertai adab. Hormatilah guru. Jagalah lisan. Jangan terburu-buru merasa paling tahu. Jangan menjadikan ilmu sebagai alat untuk mencari popularitas. Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menghina. Sebab tujuan ilmu bukan memenangkan perdebatan, tetapi menemukan kebenaran dan mendapatkan keridaan Allah.
Ilmu juga tidak boleh berhenti di dalam pikiran. Ilmu harus turun ke hati dan terlihat dalam perbuatan. Jika kita belajar tentang shalat, maka shalat kita harus semakin baik. Jika kita belajar tentang akhlak, maka lisan kita harus semakin terjaga. Jika kita belajar tentang kejujuran, maka kebohongan harus semakin kita tinggalkan. Jika kita belajar tentang tauhid, maka hati kita harus semakin bergantung kepada Allah.
Sebab ilmu yang tidak diamalkan akan kehilangan salah satu tujuan terbesarnya.
Lebih indah lagi, ilmu yang bermanfaat dapat terus mengalirkan pahala bahkan setelah seseorang meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Bayangkan jika ilmu yang kita pelajari hari ini kemudian kita ajarkan kepada anak, murid, keluarga, atau masyarakat. Mereka mengamalkannya, lalu mengajarkannya kembali kepada orang lain. Kebaikan itu dapat terus berkembang. Inilah salah satu keberkahan ilmu yang manfaatnya tidak berhenti pada diri sendiri.
Maka, jangan berhenti belajar hanya karena merasa sudah cukup pintar. Jangan berhenti mengaji hanya karena usia bertambah. Jangan malu belajar dari dasar. Jangan takut mengulang. Jangan menyerah ketika pelajaran terasa sulit.
Tidak ada ilmu yang datang kepada orang yang hanya menunggu.
Ilmu membutuhkan langkah. Ilmu membutuhkan kesabaran. Ilmu membutuhkan guru. Ilmu membutuhkan waktu. Dan ilmu membutuhkan kesungguhan.
Boleh jadi hari ini kita merasa lambat memahami sebuah pelajaran. Tetapi teruslah belajar. Boleh jadi hari ini hafalan kita belum banyak. Teruslah menghafal. Boleh jadi kita belum mampu menjelaskan kepada orang lain. Teruslah belajar. Karena Allah tidak meminta kita menjadi sempurna dalam satu hari. Allah meminta kita bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan kebaikan.
Jangan ukur keberhasilan belajar hanya dari seberapa banyak yang kita ketahui. Ukurlah juga dari seberapa banyak ilmu itu mengubah diri kita.
Jika setelah belajar kita menjadi lebih dekat kepada Allah, lebih menghormati guru, lebih santun kepada orang tua, lebih menjaga lisan, lebih jujur dalam bekerja, lebih sabar menghadapi ujian, dan lebih bermanfaat bagi orang lain, maka ilmu tersebut telah memberikan buah yang indah.
Pada akhirnya, janji Allah bagi orang yang sungguh-sungguh belajar bukan sekadar keberhasilan dunia. Janji yang jauh lebih besar adalah diangkatnya derajat, diberikan petunjuk, dimudahkan menempuh jalan kebaikan, dan dibukakan jalan menuju surga.
Maka teruslah belajar meskipun pelan.
Teruslah mengaji meskipun belum banyak yang dipahami.
Teruslah membaca meskipun belum menjadi ahli.
Teruslah duduk bersama orang-orang berilmu meskipun kita merasa masih bodoh.
Sebab bisa jadi, langkah kecil yang kita lakukan hari ini sedang menjadi jalan menuju kemuliaan yang besar di hadapan Allah.
Jangan takut menjadi orang yang belum tahu. Takutlah jika kita berhenti belajar karena merasa sudah tahu.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang tawadhu’, guru-guru yang membimbing kepada kebaikan, kekuatan untuk mengamalkan ilmu, dan kesempatan untuk mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Semoga setiap langkah kita dalam menuntut ilmu menjadi amal yang diterima Allah dan menjadi jalan menuju surga-Nya.
آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Komentar
Posting Komentar