Jangan Iri dengan Rezeki Orang Lain
Dalam kehidupan ini, Allah ﷻ telah membagi rezeki kepada setiap hamba-Nya dengan penuh hikmah dan keadilan. Ada yang dilapangkan rezekinya, ada pula yang diuji dengan keterbatasan. Namun semua itu bukanlah tanda cinta atau benci Allah, melainkan ujian keimanan. Karena itu, seorang mukmin tidak pantas iri terhadap rezeki yang dimiliki orang lain, sebab setiap bagian telah ditakar sesuai kehendak-Nya.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. An-Nisā’: 32)
Ayat ini menegaskan bahwa iri hati hanya akan mengotori hati dan menghalangi rasa syukur. Islam mengajarkan agar kita fokus pada ikhtiar dan doa, bukan pada membandingkan diri dengan orang lain. Rezeki seseorang tidak akan tertukar, dan apa yang telah Allah tetapkan pasti akan sampai kepadanya.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahaya iri hati dalam sabdanya:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Artinya: “Jauhilah oleh kalian sifat hasad (iri), karena hasad dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”
(HR. Abu Dawud)
Hadits ini menunjukkan bahwa iri bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga menghancurkan pahala amal saleh. Betapa ruginya seseorang yang rajin beribadah, namun pahalanya habis karena hatinya dipenuhi rasa dengki terhadap rezeki orang lain.
Seorang mukmin yang bijak akan menjadikan rezeki orang lain sebagai pelajaran, bukan kecemburuan. Jika melihat orang lain diberi kelapangan, ia berdoa agar Allah memberkahinya. Jika melihat dirinya diuji dengan kekurangan, ia bersabar dan yakin bahwa di baliknya terdapat kebaikan besar. Rasulullah ﷺ bersabda:
انْظُرُوا إِلَىٰ مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَىٰ مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Artinya: “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.”
(HR. Muslim)
Maka, obat dari iri adalah syukur dan qana’ah. Dengan mensyukuri apa yang ada dan meyakini bahwa Allah Maha Adil dalam membagi rezeki, hati akan menjadi tenang. Jangan iri dengan rezeki orang lain, karena rezeki terbaik adalah yang membawa kita semakin dekat kepada Allah ﷻ.

Komentar
Posting Komentar