Penilaian Orang Tentangmu dalam Pandangan Islam

 

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak akan pernah lepas dari penilaian orang lain. Ada yang memuji, ada pula yang mencela. Namun Islam mengajarkan bahwa penilaian manusia bukanlah standar utama dalam menentukan nilai seseorang. Yang paling penting adalah bagaimana Allah ﷻ menilai hamba-Nya, karena hanya Allah yang Maha Mengetahui isi hati dan niat setiap amal.

Allah ﷻ menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada penilaian manusia, harta, jabatan, atau popularitas, melainkan pada ketakwaannya. Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa Allah tidak melihat rupa dan penilaian manusia terhadap kita, tetapi melihat hati dan amal perbuatan. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)

Sering kali seseorang menjadi gelisah karena ingin dipandang baik oleh semua orang. Padahal, keridaan manusia adalah sesuatu yang sulit diraih sepenuhnya. Islam mengajarkan agar seorang muslim lebih fokus memperbaiki niat dan amal, bukan sibuk mengejar penilaian manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَرْضَى اللَّهَ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ

“Barang siapa mencari keridaan Allah meskipun manusia membencinya, maka Allah akan meridai dia dan menjadikan manusia pun ridha kepadanya.”
(HR. Ibnu Hibban)

Sebaliknya, jika seseorang hanya mengejar penilaian manusia dan melupakan Allah, maka ia akan kehilangan ketenangan dan keberkahan hidup. Oleh karena itu, sikap terbaik seorang muslim adalah tetap berbuat baik, lurus dalam ketaatan, dan menyerahkan penilaian akhir hanya kepada Allah ﷻ. Cukupkanlah Allah sebagai tujuan, karena ketika Allah ridha, maka penilaian manusia tidak lagi menjadi beban dalam hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna Kedalaman Cinta Rasulullah ﷺ dalam Doa

Agar Tidak Ujub Dengan Dirinya Sendiri

Indahnya Menikah dengan yang Paham Agama