Syarat Menjadi Pribadi yang Bermanfaat
Menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain merupakan salah satu bentuk kemuliaan dalam Islam. Hidup tidak seharusnya hanya berisi tentang bagaimana mendapatkan sesuatu untuk diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana keberadaan kita memberikan kebaikan kepada keluarga, masyarakat, dan sesama. Harta, ilmu, jabatan, tenaga, waktu, bahkan senyuman dapat menjadi sarana untuk memberikan manfaat apabila dilakukan dengan niat yang benar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Ath-Thabrani)
Menjadi pribadi yang bermanfaat tidak harus menunggu kaya, memiliki jabatan tinggi, atau menjadi orang terkenal. Seseorang dapat memberikan manfaat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Orang yang memiliki ilmu dapat mengajarkannya, orang yang memiliki harta dapat bersedekah, orang yang memiliki tenaga dapat membantu, dan orang yang memiliki kemampuan berbicara dapat menyampaikan nasihat yang baik. Bahkan menahan diri dari menyakiti orang lain juga merupakan bentuk manfaat.
Syarat pertama untuk menjadi pribadi yang bermanfaat adalah memiliki niat yang ikhlas karena Allah ﷻ. Kebaikan yang dilakukan hanya untuk mendapatkan pujian manusia akan mudah kehilangan maknanya ketika pujian tersebut tidak datang. Sebaliknya, orang yang ikhlas akan tetap berbuat baik meskipun tidak dikenal dan tidak mendapatkan penghargaan. Ia sadar bahwa manusia mungkin tidak melihat perjuangannya, tetapi Allah ﷻ mengetahui setiap amal yang dikerjakannya.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena agama.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Syarat berikutnya adalah memiliki ilmu. Niat baik saja tidak selalu cukup untuk menghasilkan manfaat. Seseorang perlu mengetahui apa yang benar, apa yang salah, kapan harus berbicara, kapan harus diam, dan bagaimana membantu orang lain dengan cara yang tepat. Ilmu membuat kebaikan menjadi lebih terarah dan mencegah seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya ingin membantu tetapi justru menimbulkan kerusakan.
Allah ﷻ berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Pribadi yang bermanfaat juga harus memiliki akhlak yang baik. Tidak ada gunanya seseorang memiliki banyak ilmu tetapi lisannya menyakiti, sikapnya merendahkan, dan perilakunya membuat orang lain menjauh. Ilmu yang benar seharusnya melahirkan tawadhu', kesabaran, kasih sayang, dan kemampuan menghargai orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Selain ilmu dan akhlak, seseorang yang ingin bermanfaat harus peka terhadap kebutuhan orang lain. Terkadang orang di sekitar kita tidak membutuhkan nasihat panjang, tetapi membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Ada yang tidak membutuhkan banyak kata, tetapi membutuhkan bantuan nyata. Ada pula yang sedang menghadapi kesulitan dan hanya membutuhkan kehadiran seseorang yang tidak menghakimi.
Allah ﷻ berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Ma'idah: 2)
Pribadi yang bermanfaat juga tidak boleh merasa bahwa dirinya harus selalu menjadi pusat perhatian. Ia mampu bekerja dalam diam, membantu tanpa banyak bicara, dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berkembang. Ia tidak menjadikan kebaikan sebagai alat untuk mengikat atau mengungkit-ungkit pemberian. Ketika membantu, ia berusaha menjaga kehormatan orang yang dibantu.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti.”
(QS. Al-Baqarah: 264)
Menjadi bermanfaat juga membutuhkan konsistensi. Jangan hanya berbuat baik ketika sedang memiliki waktu luang atau ketika mendapatkan pujian. Kebaikan yang dilakukan sedikit tetapi terus-menerus lebih dekat dengan kehidupan seorang mukmin yang istiqamah. Mulailah dari lingkungan terdekat: berbakti kepada orang tua, membantu keluarga, menghormati guru, menjaga tetangga, dan memberikan manfaat kepada masyarakat sesuai kemampuan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus, meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pada akhirnya, menjadi pribadi yang bermanfaat bukan berarti harus melakukan sesuatu yang besar di mata manusia. Bisa jadi satu kalimat yang menenangkan, satu ilmu yang diajarkan, satu bantuan yang diberikan, satu kesalahan yang kita maafkan, atau satu kesulitan orang lain yang kita ringankan menjadi amal besar di sisi Allah ﷻ. Yang terpenting adalah keikhlasan, ilmu, akhlak, kepedulian, dan keteguhan untuk terus melakukan kebaikan.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita pribadi yang kehadirannya membawa ketenangan, perkataannya membawa kebaikan, ilmunya memberikan manfaat, hartanya menjadi jalan sedekah, dan kehidupannya menjadi keberkahan bagi orang-orang di sekitarnya. Semoga setelah kita pergi, masih ada kebaikan yang terus mengalir karena pernah merasakan manfaat dari keberadaan kita. Aamiin.

Komentar
Posting Komentar