'Mental Fakir' dan Bahayanya Bagi Penuntut Ilmu
Istilah “mental fakir” di sini bukan berarti kemiskinan secara materi. Fakir dalam pengertian ekonomi adalah keadaan seseorang yang memiliki keterbatasan harta, sedangkan yang dimaksud dengan mental fakir adalah kemiskinan jiwa: selalu merasa kurang, sulit bersyukur, mudah membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa bahwa kemuliaan dirinya bergantung pada banyaknya harta, popularitas, fasilitas, atau pengakuan manusia. Kondisi ini bisa menimpa siapa saja, termasuk orang yang sedang belajar agama.
Allah mengingatkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang membutuhkan-Nya.
فَأَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Maka kalianlah orang-orang yang membutuhkan Allah, dan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)
Ayat ini mengajarkan bahwa kebutuhan manusia yang paling mendasar bukanlah kepada dunia, melainkan kepada Allah. Seorang penuntut ilmu seharusnya memiliki kesadaran bahwa dirinya fakir di hadapan Allah: fakir ilmu, fakir hidayah, fakir pertolongan, dan fakir rahmat. Namun, kesadaran sebagai hamba yang membutuhkan Allah sangat berbeda dengan mental fakir yang membuat seseorang terus merasa rendah karena membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.
Bahaya mental fakir bagi penuntut ilmu muncul ketika seseorang mulai mengukur keberhasilan belajar dengan ukuran duniawi. Ia merasa ilmu yang dimilikinya tidak berharga jika tidak menghasilkan popularitas. Ia merasa belum berhasil jika belum memiliki banyak pengikut. Ia merasa kurang apabila melihat teman seperguruan mendapatkan kesempatan yang lebih besar, memiliki kitab lebih banyak, mempunyai lembaga yang lebih maju, atau mendapatkan penghormatan yang lebih luas.
Pada titik tertentu, ilmu yang seharusnya menjadi jalan menuju ketenangan justru berubah menjadi sumber kegelisahan. Seseorang belajar bukan lagi karena ingin mendekat kepada Allah, tetapi karena ingin mendapatkan pengakuan. Ia membaca agar dipuji, berbicara agar dianggap pintar, mengajar agar dikenal, dan berdakwah agar namanya semakin luas. Secara lahiriah tampak sedang mengejar ilmu, tetapi secara batin ia sedang mengejar pandangan manusia.
Padahal Rasulullah SAW mengingatkan bahwa amal sangat berkaitan dengan niat.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, penuntut ilmu perlu sesekali berhenti dan bertanya kepada dirinya sendiri: “Untuk apa aku belajar?” Pertanyaan sederhana ini sangat penting. Sebab seseorang bisa mempelajari ilmu agama bertahun-tahun, tetapi jika hatinya dipenuhi ambisi duniawi, ilmu tersebut belum tentu membuatnya semakin dekat kepada Allah.
Mental fakir juga dapat membuat seorang penuntut ilmu mudah merasa iri. Ketika melihat orang lain mendapatkan pujian, ia merasa dirinya dilupakan. Ketika melihat murid orang lain lebih banyak, ia merasa dirinya kalah. Ketika melihat seseorang mendapatkan kedudukan, ia merasa kesempatan itu seharusnya menjadi miliknya. Akhirnya, perhatian yang semestinya digunakan untuk memperbaiki diri justru habis untuk mengamati kehidupan orang lain.
Padahal setiap orang memiliki jalan, rezeki, kemampuan, dan ketetapan yang berbeda. Allah tidak memerintahkan seseorang untuk menjadi seperti orang lain. Allah memerintahkan setiap hamba untuk bertakwa dan berusaha menjadi lebih baik sesuai amanah yang diberikan kepadanya.
Allah berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Dan janganlah kalian iri hati terhadap karunia yang telah Allah lebihkan kepada sebagian kalian atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa’: 32)
Ayat tersebut memberikan pelajaran penting bagi penuntut ilmu. Karunia Allah kepada manusia memang berbeda-beda. Ada yang diberi kecerdasan, ada yang diberi kemampuan berbicara, ada yang diberi ketekunan, ada yang diberi kesempatan belajar kepada guru-guru besar, dan ada pula yang mungkin tidak dikenal banyak orang tetapi memiliki keikhlasan dan ketakwaan yang luar biasa.
Tidak semua kelebihan harus dimiliki oleh satu orang. Yang penting adalah bagaimana seseorang menggunakan karunia yang telah diberikan Allah. Seorang penuntut ilmu yang memiliki sedikit fasilitas tetapi tekun, ikhlas, dan istiqamah bisa memiliki nilai yang besar di sisi Allah. Sebaliknya, seseorang yang memiliki banyak fasilitas tetapi selalu merasa kurang dan tidak pernah bersyukur dapat kehilangan keberkahan dari apa yang dimilikinya.
Mental fakir juga berbahaya karena dapat merusak adab terhadap guru. Ketika hati dipenuhi ambisi untuk mendapatkan sesuatu, seseorang bisa mulai memilih guru berdasarkan popularitas, bukan berdasarkan keilmuan, akhlak, dan amanah. Ia berpindah-pindah majelis bukan karena mencari kebenaran, tetapi karena mencari tempat yang paling banyak memberikan pengakuan. Bahkan, tidak jarang seorang penuntut ilmu meninggalkan proses belajar yang panjang karena merasa tidak segera mendapatkan posisi atau penghormatan.
Padahal ilmu membutuhkan kesabaran. Seorang penuntut ilmu harus siap menjalani proses yang panjang, terkadang bertahun-tahun, bahkan sepanjang hidup. Tidak semua ilmu langsung terlihat hasilnya. Ada ilmu yang baru terasa manfaatnya ketika seseorang menghadapi ujian. Ada nasihat guru yang baru dipahami setelah bertahun-tahun. Ada pelajaran yang dahulu dianggap sederhana, tetapi ternyata menjadi pegangan hidup ketika seseorang berada dalam keadaan sulit.
Karena itu, penuntut ilmu harus membangun qanaah, yaitu merasa cukup terhadap pemberian Allah sembari tetap berusaha. Qanaah bukan berarti berhenti berusaha. Qanaah berarti hati tidak diperbudak oleh rasa kurang. Seseorang tetap boleh memiliki cita-cita besar, membangun lembaga, menulis buku, mengembangkan usaha, memperluas dakwah, dan meningkatkan kualitas kehidupannya. Namun semua itu dilakukan tanpa menjadikan pencapaian dunia sebagai ukuran harga dirinya.
Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah kekayaan yang sangat dibutuhkan oleh penuntut ilmu. Kaya jiwa berarti mampu bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika mendapatkan keterbatasan, menghormati orang lain ketika melihat kelebihannya, dan tetap tenang ketika belum mendapatkan apa yang diinginkan. Ia tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai standar untuk menghakimi dirinya sendiri.
Penuntut ilmu juga perlu membedakan antara semangat berkembang dan mental selalu merasa kurang. Semangat berkembang membuat seseorang berkata, “Aku ingin belajar lebih baik karena Allah.” Mental fakir berkata, “Aku harus lebih hebat daripada dia agar aku dianggap.” Semangat berkembang membuat seseorang senang melihat keberhasilan orang lain. Mental fakir justru merasa terganggu ketika orang lain maju.
Semangat berkembang melahirkan syukur dan mujahadah, sedangkan mental fakir dapat melahirkan iri, kecewa, ujub, bahkan permusuhan. Karena itu, penyakit hati semacam ini tidak boleh dianggap ringan hanya karena tidak terlihat secara fisik.
Salah satu obatnya adalah memperbanyak syukur. Allah berfirman:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian; tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
Seorang santri atau penuntut ilmu hendaknya belajar melihat nikmat yang sering dianggap kecil: masih diberi kesempatan membaca kitab, masih memiliki guru untuk bertanya, masih diberikan kesehatan untuk menghadiri majelis, masih diberi keluarga, sahabat, waktu, dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Jika semua itu direnungkan, seseorang akan menyadari bahwa hidupnya sebenarnya dipenuhi karunia.
Mental fakir juga dapat disembuhkan dengan memperbanyak doa agar hati tidak bergantung kepada selain Allah. Sebab manusia bisa memiliki banyak hal secara lahiriah, tetapi tetap miskin secara batin apabila hatinya selalu meminta pengakuan manusia. Sebaliknya, seseorang mungkin memiliki kehidupan yang sederhana, tetapi hatinya tenang karena merasa cukup dengan Allah.
Pada akhirnya, tujuan menuntut ilmu bukanlah menjadi orang yang paling dikenal, paling banyak dipuji, atau paling tinggi kedudukannya di mata manusia. Tujuan ilmu adalah mengenal Allah dengan benar, memperbaiki ibadah, memperindah akhlak, menghilangkan kebodohan dari diri sendiri, kemudian memberikan manfaat kepada orang lain. Semakin berilmu seharusnya seseorang semakin tawadhu, karena semakin banyak ilmu yang dipelajari, semakin ia menyadari luasnya sesuatu yang belum diketahuinya.
Seorang penuntut ilmu tidak perlu merasa hina hanya karena belum memiliki apa yang dimiliki orang lain. Ia juga tidak perlu merasa tinggi hanya karena mengetahui sesuatu yang belum diketahui orang lain. Setiap kelebihan adalah amanah dan setiap kekurangan adalah kesempatan untuk belajar. Yang terpenting adalah menjaga hati agar tidak menjadi miskin di tengah banyaknya ilmu.
Maka, marilah kita memohon kepada Allah agar diberikan ilmu yang bermanfaat, hati yang qanaah, niat yang ikhlas, dan kemampuan untuk menghargai karunia-Nya. Semoga ilmu yang kita pelajari tidak menjadikan kita haus pujian, tetapi semakin dekat kepada Allah; tidak menjadikan kita iri kepada sesama, tetapi mampu ikut bahagia atas kebaikan mereka; dan tidak menjadikan kita merasa paling tahu, tetapi semakin rendah hati sebagai hamba yang senantiasa membutuhkan petunjuk-Nya.
اللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا، وَارْزُقْنَا قَلْبًا قَانِعًا وَنَفْسًا مُطْمَئِنَّةً
“Ya Allah, berilah kami manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat bagi kami, tambahkanlah ilmu kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami hati yang qanaah serta jiwa yang tenteram.”
Semoga para penuntut ilmu dijauhkan dari kemiskinan jiwa, diberi keteguhan dalam belajar, dimudahkan memahami ilmu, dan dijadikan orang-orang yang ilmunya membawa keberkahan bagi diri sendiri, keluarga, guru, masyarakat, dan umat.

Komentar
Posting Komentar