Syariat adalah Nutrisi Hati
Dalam Islam, hati merupakan pusat kesadaran spiritual manusia. Ia ibarat raja dalam tubuh, sementara anggota badan adalah tentaranya. Bila hati baik, maka baiklah seluruh tubuh. Bila hati rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Begitulah sabda Rasulullah ﷺ dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim. Maka dari itu, hati manusia membutuhkan nutrisi agar tetap hidup, sehat, dan kuat dalam menjalani kehidupan sebagai hamba Allah.
Syariat Islam adalah aturan hidup yang Allah turunkan melalui Rasul-Nya. Ia mencakup perintah, larangan, dan petunjuk untuk menjalani hidup yang diridhai Allah. Semua amalan syariat baik berupa salat, puasa, sedekah, zikir, muamalah, hingga adab sehari-hari adalah bentuk "nutrisi" yang murni dan penuh berkah bagi hati manusia.
Setiap syariat yang Allah tetapkan bukan sekadar ritual atau formalitas, melainkan makanan ruhani yang mampu menyucikan jiwa, menenangkan batin, dan menguatkan keimanan. Allah berfirman:
اللَّهُ يَهْدِي بِهِ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَـٰمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِهِۦ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
"Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan."
(QS. Al-Ma’idah: 15–16)
Dengan kata lain, hati yang dibina melalui syariat akan tumbuh sehat, jernih, dan mampu membedakan antara hak dan batil. Ia terjaga dari penyakit-penyakit hati seperti riya’, ujub, hasad, dan cinta dunia yang berlebihan.
Sebagian orang mengira bahwa selama ia merasa "baik", maka amalannya sah-sah saja dilakukan, walau tidak ada dasarnya dalam syariat. Mereka mengira bahwa semua bentuk zikir, amalan, atau ritual spiritual dapat menenangkan hati, tanpa memperhatikan apakah itu benar-benar berasal dari Rasulullah ﷺ atau tidak.
Ini ibarat seseorang yang ingin menyehatkan tubuhnya dengan makanan, tapi justru memilih makanan yang tidak jelas kandungannya, bahkan mungkin beracun. Tubuh mungkin kenyang sesaat, tapi perlahan akan sakit, bahkan hancur. Demikian pula hati: jika diberi amalan yang tidak berasal dari syariat, ia mungkin terasa "tenang" secara emosional, tapi sesungguhnya tengah mengalami kerusakan batin secara ruhani.
Imam Malik rahimahullah pernah berkata:
"Barang siapa membuat bid'ah dalam Islam, dan menganggapnya sebagai kebaikan, maka ia telah menuduh Nabi Muhammad ﷺ mengkhianati risalah."
(Al-I’tisham, Imam Asy-Syathibi)
Hal ini menunjukkan bahwa semua bentuk amal yang dianggap mendekatkan diri kepada Allah harus bersandar pada dalil yang sahih. Tanpa itu, maka amalan tersebut tidak akan diterima, dan hanya akan menjadi beban bagi hati.
Hati manusia adalah tempat iman bersemayam. Ia tidak bisa tumbuh dengan amalan yang hanya mengikuti perasaan atau tradisi. Ia butuh nutrisi yang murni, yang datang dari wahyu Allah dan sunnah Rasulullah ﷺ. Maka, marilah kita rawat hati kita dengan syariat yang sahih, agar ia menjadi hati yang hidup, bersih, dan kuat menghadapi godaan dunia.
Sebaliknya, menjauh dari syariat dan menggantinya dengan amalan-amalan yang tidak ada dasarnya sama saja seperti memberi makanan busuk kepada tubuh: bisa jadi tampak lezat, tapi hakikatnya merusak dari dalam.

Komentar
Posting Komentar