Mengapa Berkah Itu Penting di Akhir Zaman?
Di akhir zaman, manusia hidup di tengah kemajuan teknologi, melimpahnya informasi, dan berbagai kemudahan. Namun, di sisi lain, banyak orang merasa hidupnya semakin sempit, waktu terasa cepat berlalu, harta bertambah tetapi ketenangan berkurang, dan hubungan antarmanusia semakin renggang. Dalam kondisi seperti ini, yang paling dibutuhkan bukan sekadar banyaknya nikmat, melainkan keberkahan dari Allah ﷻ.
Berkah adalah kebaikan yang terus bertambah, tetap, dan membawa manfaat. Sesuatu yang berkah tidak selalu banyak jumlahnya, tetapi cukup, menenteramkan hati, dan menjadi sebab kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Sebaliknya, sesuatu yang tidak berkah mungkin tampak melimpah, tetapi mudah habis, tidak membawa kebahagiaan, bahkan dapat menjadi sebab kesulitan.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi.”
(QS. Al-A'raf: 96)
Ayat ini menjelaskan bahwa keberkahan merupakan buah dari iman dan ketakwaan. Ketika seorang hamba menjaga hubungannya dengan Allah, Allah akan menurunkan keberkahan dalam rezeki, keluarga, ilmu, kesehatan, dan umurnya.
Salah satu tanda akhir zaman adalah berkurangnya keberkahan waktu. Rasulullah ﷺ mengabarkan:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ
“Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga waktu terasa semakin singkat.”
(HR. Bukhari)
Para ulama menjelaskan bahwa salah satu makna hadits ini adalah berkurangnya keberkahan waktu. Banyak orang merasa hari-harinya berlalu begitu cepat, tetapi sedikit amal dan manfaat yang dihasilkan. Karena itu, seorang mukmin hendaknya memohon kepada Allah agar diberikan keberkahan dalam waktu, sehingga setiap hari diisi dengan ibadah, ilmu, dan amal saleh.
Keberkahan juga lebih berharga daripada sekadar banyaknya harta. Ada orang yang berpenghasilan sederhana tetapi mampu mencukupi kebutuhan keluarganya, gemar bersedekah, dan hidup dengan tenang. Sebaliknya, ada yang hartanya melimpah namun selalu merasa kurang, dipenuhi kecemasan, dan jauh dari kebahagiaan. Perbedaan itu sering kali terletak pada keberkahan, bukan pada jumlah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
(HR. Muslim)
Hadits ini mengingatkan bahwa keberkahan berkaitan erat dengan kehalalan dan kebaikan. Rezeki yang diperoleh dengan cara halal, disyukuri, dan digunakan di jalan yang benar akan lebih mudah mendatangkan keberkahan daripada harta yang diperoleh dengan cara yang batil.
Para ulama juga menjelaskan bahwa keberkahan dapat diraih melalui berbagai amalan, seperti menjaga shalat tepat waktu, membaca Al-Qur'an, memperbanyak istighfar, bersedekah, menyambung silaturahmi, berbakti kepada kedua orang tua, menghormati guru, serta bersikap jujur dan amanah dalam setiap urusan.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Kesimpulannya, di akhir zaman keberkahan lebih penting daripada sekadar banyaknya harta, panjangnya umur, atau tingginya jabatan. Berkah menjadikan yang sedikit terasa cukup, yang sempit menjadi lapang, dan yang sulit menjadi mudah. Oleh karena itu, marilah kita lebih mengejar keberkahan dengan memperkuat iman, meningkatkan ketakwaan, menjaga keikhlasan, dan mengamalkan ajaran Islam dalam setiap aspek kehidupan. Semoga Allah ﷻ melimpahkan keberkahan kepada kita, keluarga kita, serta seluruh kaum muslimin.

Komentar
Posting Komentar